Kamiina Botan, Sosok Mabuknya Seindah Bunga Lili episode 9 meninggalkan kami dengan perasaan senang dan sedih yang tercampur aduk.
Kini, kami sudah mulai terbiasa dengan formula penceritaan Kamiina Botan yang menuntut penontonnya untuk tidak menelan apa yang ditampilkan di depan layar secara mentah, dan mencerna apa yang disampaikan untuk memahami dinamika dan perasaan sebenarnya yang dirasakan oleh para karakter yang ada.
Formula tersebut kembali lagi di episode 9, yang kali ini kembali mengusung gaya visual yang sedikit kasar dengan ekspresi wajah jenaka yang mengingatkan kami pada episode 3 lalu.
Namun kali ini makna-makna tersirat yang disampaikan terasa cukup "menyakitkan" dan melebihi apa yang ditawarkan oleh episode 5 yang kami nilai cukup "tragis". Membuat episode 9 Kamiina Botan, Sosok Mabuknya Seindah Bunga Lili menjadi salah satu episode yang paling emosional sejauh ini.
Sebuah Langkah Besar Untuk Ibuki

Episode 9 dimulai dengan Gujo, Chin-lan, dan Ibuki yang akan berbagi dan minum alkohol bersama di kamar Ibuki. Di sini, Chin-lan kembali menunjukkan kami kenapa dia patut masuk dalam perbincangan tentang "best girl" di musim ini dengan pembawaannya yang cukup sialan dan mengundang senyum.
Minum alkohol bersama ini adalah adegan yang cukup penting untuk character development dari Ibuki untuk keluar dari kekhawatiran yang disebabkan oleh memori buruknya waktu meminum alkohol untuk pertama kalinya.
Sebelumnya, karena memori tersebut Ibuki hanya bisa meminum alkohol seorang diri. Setelah Botan datang, Ibuki dapat minum dengan orang lain dan menyadari bahwa minum dengan orang lain itu menyenangkan, dan di episode 6 Ibuki akhirnya dapat minum bersama orang lain selain Botan (meskipun didorong dengan rasa cemburu akut).
Dan di episode 9, Ibuki memberanikan diri untuk minum dengan Chin-lan dan Gujo, tanpa Botan (meskipun caranya untuk memberanikan diri adalah dengan memikirkan Botan dalam pose yang sugestif).
Momen ini juga sangat berarti untuk Gujo, yang selama ini telah berusaha berkali-kali untuk minum alkohol bersama dengan Ibuki yang selalu menolak ajakannya tersebut. Meskipun tidak ditunjukkan secara langsung, direksi dari momen tersebut membuat momen ini terasa berarti untuk mereka berdua.
Ditambah lagi, Ibuki menyatakan ketertarikan untuk magang di perusahaan di mana Gujo bekerja yang membuat Gujo sangat bahagia. Setelah episode 5 yang merupakan episode yang sangat berat untuk Gujo, kami merasa senang bahwa akhirnya Gujo memiliki momen "W" tentang Ibuki.
Namun, rasa senang tersebut direbut dalam sekejap. Saat Chin-Lan Chang bertanya kepada Ibuki jika dia memiliki hal yang membuat dirinya senang, jawabannya adalah meminum alkohol bersama Botan.

Salah satu hal yang kami apresiasi dari hadirnya Chin-Lan di seri ini setelah debutnya di episode 6 adalah perannya sebagai seorang yang peka dan rasional.
Meskipun terkadang mulutnya agak terlalu blak-blakan, Chin-Lan Chang kerap menjadi karakter yang menjadi dukungan emosional untuk para penghuni asrama lainnya, dan menjadi pendorong narasi yang sangat efektif karena rasa peka dan sifat blak-blakannya tersebut.
Di episode 9 dia kembali memainkan peran tersebut, kini sebagai dukungan emosional untuk Gujo yang hatinya sudah hancur. Metafora visual yang digunakan di adegan ini menggambarkan dengan sangat jelas betapa menyakitkannya hal ini untuk Gujo, dengan tetap menjaga cara show, don't tell yang telah menjadi modus operandi di anime ini.
Terkadang Kebahagiaan...

Episode ini juga melanjutkan garis plot hubungan Ibuki dan Botan yang mulai didorong maju di episode 8 lalu oleh Chin-Lan. Mengendarai Mazda MX5 ND yang dipinjam dari temannya Akane, Botan dan Ibuki kembali jalan-jalan berduaan.
Ini bukan pertama kalinya Botan dan Ibuki pergi bersama, namun ini pertama kalinya di mana Botan terasa berbeda dari biasanya. Dia tidak banyak berbicara, sering diam, dan sekilas seakan tidak menikmati perjalanan tersebut. Namun, hal itu dikarenakan semua yang ada di pikiran Botan adalah apakah Ibuki merasakan hal yang sama seperti yang ia rasa.

Hubungan Ibuki dan Botan mengalami perkembangan terbesar sejauh ini di episode 9.
Di momen-momen pentingnya, direksinya dirancang sehingga kami dibuat bertanya-tanya tentangnya, adegan yang ada dipotong dengan cara yang sangat spesifik hingga kami sempat berpikir bahwa bisa saja apa yang diucapkan oleh Botan dan Ibuki memiliki lebih dari satu makna, terutama karena adegannya tersebut dibumbui dengan sedikit kaldu melankolia.
Kecemasan Botan, ditambah pertanyaan Ibuki tentang berapa banyak kesempatan yang tersisa bagi mereka untuk minum bersama, membangun harapan yang mungkin tidak realistis, tetapi sulit untuk tidak ikut memikirkannya.
Bahwa ini bisa jadi adalah akhir dari hubungan Ibuki dan Botan.

Dan ternyata benar, ini memang adalah akhir dari hubungan Botan dan Ibuki, sebagai teman.
Sejak awal, Kamiina Botan tidak pernah ragu untuk menampilkan unsur yurinya secara terbuka.
Perasaan romantis para karakternya tidak pernah disamarkan sebagai sekadar persahabatan, dan episode 9 menjadi puncak dari keberanian tersebut.
Sebuah pernyataan cinta romantis, di sebuah anime yuri, dengan beberapa episode masih tersisa.
Bagi Ibuki, episode ini adalah episode yang penuh dengan kebahagiaan. Namun ada sesuatu yang membuat kami tidak bisa sepenuhnya bisa mengikuti kebahagiaan yang dirasakan kedua tokoh utama tersebut.
Karena meskipun mereka berdua akhirnya bahagia bersama, bagaimana dengan Gujo-senpai?
Datang Dengan Kesengsaraan Untuk Orang Lain

Di saat yang bersamaan dengan tamasya Ibuki dan Botan, Gujo dan Chin-Lan juga pergi bertamasya ke gunung Takao.
Segera, dinamika yang ada di antara mereka masih terasa canggung seperti di episode 6 lalu dengan perbincangan yang kebanyakan, dimulai oleh Chin-Lan.
Secara tidak langsung, rasa canggung tersebut juga memberi tahu para penonton apa yang dirasakan oleh Gujo pasca "tragedi" yang dialaminya sebelumnya.

Di episode 5, diceritakan bahwa cara Gujo menangani kesedihan adalah dengan berdiam diri. Dia adalah tipe orang yang berusaha sebaik mungkin untuk menutupi apa yang dia rasa (meskipun, keadaan emosionalnya sangat mudah dibaca), dan di episode ini Gujo terlihat lebih banyak diam.
Seakan, Chin-Lan lah yang mengajak Gujo untuk menaiki gunung Takao untuk menjauhkannya dari pikirannya sendiri. Semua itu disampaikan dengan hampir tanpa dialog, sentuhan yang rapi.

Episode 9 menyampaikan melankolia tersebut dengan cara yang lebih hening dan jenaka (tentu karena Chin-Lan) dibandingkan dengan episode 5 yang bombastis.
Ada ketenangan dan kualitas yang menyembuhkan tersendiri yang terasa di tamasya Gujo dan Chin-Lan tersebut saat mereka berbicara tentang mobil kabel dan memasak barbeque setelah sampai di atas gunung.
Episode 9 melanjutkan kisah Kamiina Botan dengan sangat signifikan, dan kami tidak sabar untuk mengetahui kelanjutannya, dan bagaimana semua ini akan berakhir di finale.



.png&w=3840&q=75)

![[Review] Film Live Action Cells at Work!: Ketika Sel Darah Dalam Tubuh Sajikan Komedi, Aksi Laga dan Drama Sinematik Epik](/_next/image?url=https%3A%2F%2Fstg.mediaformasi.com%2Fapi%2Fmedia%2Ffile%2Fplaceholder.jpg&w=3840&q=75)