Pop Kultur

Gen Urobuchi: Kini Orang Mencari ‘Obat’ dalam Fiksi, Bukan ‘Racun’

Karena dunia yang semakin kejam, 'racun' bukanlah sesuatu yang audiens modern cari dalam fiksi.

Oleh Ibrahim Gustav Amany 2 menit baca
Homura di Puella Magi Madoka Magica the Movie -Walpurgisnacht Rising-

Gen Urobuchi, penulis dari banyak seri ikonik seperti Puella Magi Madoka Magica, Fate/Zero, dan Saya no Uta menyebutkan bahwa karena keadaan dunia yang semakin kejam, saat ini audiens tidak lagi mencari 'racun' dari fiksi yang mereka konsumsi, namun mereka mencari 'obat' dari realita tersebut.

Melansir dari laporan oleh Automaton West, kutipan tersebut datang dari sesi wawancara yang digelar oleh media Denpafaminicogamer bersama dengan seiyuu Koiwai Kotori yang merupakan pengisi suara Saya dari Saya no Uta.

Saya no Uta (Foto: Nitroplus, Steam)
Saya no Uta (Foto: Nitroplus, Steam)

Dalam wawancara tersebut, Gen Urobuchi berbicara tentang banyak hal, mulai dari betapa gelap dan dramatisnya skenario yang ada di Saya no Uta dan bagaimana "semua ending (yang ada di game) bisa dianggap sebagai ending buruk".

Urobuchi juga berkomentar bahwa tema muram dan penuh dengan kejutan buruk yang bisa ditemukan di Saya no Uta dan game-game besutan studio Nitroplus lainnya mungkin bukanlah tema yang audiens modern cari, terutama mengingat kondisi dunia saat ini.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan Shimokura Vio dalam rangka perayaan rilisnya You and Me and Her: A Love Story atau biasa disingkat sebagai Totono, Gen Urobuchi menyebutkan bahwa "Nitroplus melayani orang-orang yang lebih menyukai sensasi daripada rasa aman."

YOU and ME and HER: A Love Story (Foto: Nitroplus, Steam)
YOU and ME and HER: A Love Story (Foto: Nitroplus, Steam)

Urobuchi membandingkan Nitroplus dengan restoran yang menyajikan makanan pedas dan asam meskipun "secara alami, pedas dan asam merupakan tanda bahwa sesuatu itu beracun."

Namun, saat ini Gen Urobuchi memiliki opini yang berbeda.

“Itu pendapat saya saat itu. Namun, saya juga merasa bahwa audiens modern tidak mencari ‘racun.’ Mereka mungkin mencari ‘obat’ dalam fiksi justru karena dunia nyata begitu kejam [...] Dan ‘kenyamanan’ semacam itu seharusnya diciptakan oleh generasi muda. Saya pikir lebih baik saya mundur sedikit.”

Selain itu, Gen Urobuchi juga menyebutkan bahwa ia masih tertarik dalam membuat game. Semua kemungkinan kreatif yang ada di media tersebut serta popularitas platform game digital seperti Steam menjadi motivator utama.

“Alasan mengapa saya akhirnya bisa percaya bahwa ‘sekaranglah saatnya membuat game benar-benar layak diperjuangkan,’ adalah karena kini, video game akhirnya terbebas dari batasan perangkat keras tertentu berkat popularisasi platform seperti Steam [..] Dulu, ketika perangkat keras yang ada sudah tidak didukung, game yang ada akan dilupakan bersamanya […] Tetapi hal luar biasa bagi saya saat ini adalah sekarang kita memiliki sistem yang memungkinkan kita untuk memainkan game kapan pun kita mau, terlepas dari zamannya.”

Opini ini juga bercermin pada tren dari media Jepang selama beberapa tahun kebelakang, di mana karya seperti dari genre slice of life dan fantasi menjadi genre paling populer. Kedua genre tersebut juga menawarkan 'pelarian' dari dunia nyata.

Bagaimana, MedForians? Apakah kamu salah satu orang yang mencari 'obat' dari fiksi? Ataukah kamu salah satu yang masih mencari 'racun'?

Tentang Penulis

Ibrahim Gustav Amany
Ibrahim Gustav AmanyPenulis di Media Formasi

Visual novel, racing games, and animanga enjoyer. Writing deep dives is my passion.

Punya pertanyaan atau ingin menghubungi tim redaksi? Email kami di [email protected]