Japanese Film Festival (JFF) 2025 menghadirkan berbagai film live action dan anime yang menarik dari negeri asal Sakura. Salah satunya adalah Cells at Work!, film adaptasi dari manga Hataraku Saibou karya Akane Shimizu.
Redaksi berkesempatan untuk menyaksikan film Cells at Work! yang diputar di JFF 2025 Surabaya. Berikut ulasan filmnya!
Sinopsis Film live-action Cells at Work!
Film live-action Cells at Work! mengikuti kisah seorang siswi SMA, Niko, dan Shigeru, ayahnya yang tidak sehat, perokok berat/peminum alkohol.
Film ini menunjukkan perbedaan lingkungan sel yang sangat besar di dalam tubuh mereka saat menghadapi berbagai tantangan kesehatan seperti flu, luka, dan patogen.
Fokusnya kontras antara sel-sel sehat Niko dan sel-sel ayahnya yang kelelahan dan terlalu banyak bekerja, yang berpuncak pada pertempuran besar saat ancaman menyerang.
Memberikan komedi di awal
Pertemuan awal Sel Darah Merah (AE3803, diperankan Mei Nagano) dan Sel Darah Putih (U-1146, diperankan Takeru Satoh) ketika masih kecil pelan namun pasti seolah membangun chemistry cerita, terutama ketika mereka berdua dan trilyunan sel berada di dalam tubuh Niko (diisi Mana Ashida).
Berbagai penyakit ringan yang diderita Niko, seperti influenza, demam, luka karena terjatuh, dibangun secara sistematis, tapi tetap memberikan nuansa komedi dan tidak kaku.
Bahkan ketika sang karakter utama merasakan jatuh cinta, sel di dalam tubuh yang merasa senang pun ikut ditampilkan secara alami.
Begitu pula dengan para pemeran sel yang berada di dalam tubuhnya ayah Niko yang bergaya hidup tidak sehat, mulai dari minum alkohol, merokok, hingga makan mi instan.
Keluh kesah para sel tubuh ayahnya Niko, terutama sel darah merah terasa nyata dan lepas, seperti layaknya pekerja pabrik.
Konsep ini mengambil sedikit dari versi manga spin-off Hataraku Saibou Black, namun tidak menganggu cerita utama film Cells at Work!.
Salah satu yang menarik adalah ketika adegan pertarungan antara sel darah putih (Neutrofil U-1146) melawan para bakteri hingga sel kanker. Adegan pertarungan ini seperti layaknya film aksi laga, terasa heroik.
Kehadiran Sel Killer T dan Sel NK dalam berbagai pertarungan, hingga perselisihan kecil mereka turut diperankan secara sempurna hingga detail layaknya versi anime.
Sayangnya, mereka berdua baru mendapatkan porsi besar adegan ketika memasuki pertarungan klimaks, tak seperti U-1146.
Pembangunan latar penokohan sendiri sangat sistematis, mulai dari awal hingga akhir, baik dari U-1146 ataupun AE3803.
Bahkan, pembangunan latar belakang untuk sel kanker sekalipun ikut dibangun dengan penuh detail dan emosional, sehingga memberikan pertarungan klimaks yang epik dan menarik.
Hanya saja ketika mendekati akhir, ada satu momen ketika pertarungan hidup mati Niko ketika melawan kanker, dan hanya bisa diselamatkan melalui kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang.
Ketika memasuki bagian transplantasi sumsum tulang, film tidak menjelaskan lebih detail terkait ini, dan seolah hanya memberi petunjuk yang dangkal kalau itu bisa membangun serta mereset "dunia sel" dari awal.
Alur cerita film bisa dibilang tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu lambat. Ceritanya mampu membuat penonton diajak memahami tugas antar sel dan perjuangan mereka dalam menjaga kelangsungan hidup tubuh manusia.
Perjuangan hidup mati Niko dalam melawan kanker serta pengorbanan ayahnya dalam menemani anaknya juga berhasil memberikan twist ending dalam film, dan menyentuh serta menguras sisi emosi dan humanis penonton hingga akhir.
Penutup
Film Live Action Cells at Work! sangat cocok dilihat bagi semua kalangan, baik bagi anak-anak dengan bimbingan orang tua, ataupun remaja dan dewasa, karena mampu memberikan nilai edukasi.
Film ini mampu menyentuh emosi dan memberikan pesan kuat kepada penonton untuk terus bergaya hidup sehat demi menghargai sel dalam tubuh.
Dapatkan berita dan informasi terkini langsung di ponsel mu! Simak kabar terbaru pop kultur Jepang, anime, teknologi, gaming, hingga industri kreatif di kanal WhatsApp Media Formasi: Gabung Sekarang




