Setelah sempat membicarakan soal kembalinya Manay ke EVOS Divine sebagai analis, pelatih RRQ Kazu, Adi Gustiawan kembali beropini soal kehadiran dirinya di tim tersebut.
Pelatih yang akrab disapa Coach Ady sendiri datang dari posisi yang menarik. RRQ Kazu konsisten berada di papan atas Free Fire Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi belum pernah menjuarai turnamen major internasional Free Fire seperti EWC, FFWS SEA, maupun FFWS Global Finals.
Karena itu, ketika ia bicara tentang proses, kegagalan, dan mimpi menjadi juara dunia, nadanya bukan seperti orang yang sedang merayakan masa lalu. Ia bicara seperti seseorang yang masih dikejar sesuatu.
Dalam sesi interview lain bersama kru Media Formasi, Coach Ady membeberkan pandangan soal keberadaan tim RRQ Kazu, yang konsisten bersaing di papan atas, tetapi belum pernah juara major internasional Free Fire seperti EWC, FFWS SEA, atau FFWS Global Finals.
Menurutnya, ia sedang membangun pondasi yang kuat di timnya.
"Ketika saya masuk RRQ, kondisinya tidak langsung ideal. Komunikasi tim waktu itu kacau. Jadi yang pertama saya benahi bukan gaya main yang kelihatan keren, tetapi pondasi," jawab Coach Ady.
Dirinya memakai filosofi bambu dalam membangun pondasi RRQ. Menurutnya, bambu di awal seperti tidak tumbuh.
"Dua atau tiga tahun, orang mungkin tidak melihat apa-apa di permukaan. Tetapi di bawah tanah, akarnya sedang dibangun. Ketika akarnya kuat, baru dia tumbuh tinggi dan sulit dijatuhkan," ujar beliau memberi penjelasan.
"Itu yang saya tanamkan ke pemain. Saya tidak ingin RRQ menjadi tim yang datang, juara sekali, lalu besoknya hilang. Saya ingin tim ini kuat dalam jangka panjang," tambahnya.
Dia mengakui kalau timnya memang belum juara dunia ataupun meraih juara major internasional.
"Tetapi prosesnya harus menuju ke sana. Bukan hanya untuk menang sekali, tetapi untuk menjadi tim yang bisa konsisten setelah menang," lanjut beliau.
Pergantian Pemain Dalam Pondasi RRQ
Coach Ady juga menjelaskan alasan seringnya pergantian pemain tiap musim di RRQ.
"Salah satunya untuk menjaga tim tetap sehat. Orang dari luar mungkin melihat, kenapa RRQ hampir setiap season ada yang keluar dan masuk? Tetapi kadang keputusan seperti itu perlu," ujarnya menanggapi isu pergantian pemain.
"Kalau ada terlalu banyak intervensi dari luar, atau ada potensi masalah yang bisa membesar, kita harus menutupnya. Di tim juga begitu. Kadang keputusan sulit harus diambil bukan karena tidak sayang pemain, tetapi karena tim harus tetap hidup."
Menurut beliau, visi pemain menjadi indikator paling dasar bahwa seorang pemain cocok atau tidak cocok masuk ke sistem tim.
"Tiga pemain mungkin punya visi ingin bawa tim juara, sementara pemain trial bisa punya visi lain untuk membuktikan bahwa dirinya layak di tim. Kelihatannya bagus, karena dia punya motivasi. Tetapi kalau motivasinya terlalu personal, keputusan di dalam game bisa berubah," tutur Ady.
"Dia bisa memaksakan fight karena ingin terlihat pantas. Sementara tim butuh satu arah. Di level ini, beda visi sedikit saja bisa terasa di game."
Tak hanya visi, ego pemain baginya bisa langsung mengubah permainan tim.
"Di level ini, semua orang sudah bisa main. Yang membedakan bukan lagi sekadar mekanik. Yang membedakan adalah apakah mereka bisa mengambil keputusan yang tepat secara konsisten," jawab Ady.
"Kalau satu orang berpikir tentang dirinya sendiri, tim akan merasakan. Free Fire itu bukan game empat orang yang kebetulan memakai jersey sama. Ini game empat orang yang harus bergerak sebagai satu sistem."
Coach Ady juga memberikan pendekatan berbeda ke masing-masing roster. Meski demikian, beliau memiliki tujuan akhirnya tetap sama: semua orang harus percaya proses dan punya tujuan yang sama.
"Setiap pemain punya karakter yang berbeda. Ada yang harus diajak bicara pelan-pelan. Ada yang harus ditegur langsung, ataupun harus diberi ruang. Ada juga yang harus ditantang. Kalau semuanya diperlakukan sama, hasilnya bisa berantakan."
"Saya mencoba memahami psikologis masing-masing pemain. Kalau problemnya seperti ini, pendekatannya seperti ini. Kalau karakternya berbeda, cara bicara saya juga berbeda."
Tetap berikan ruang diskusi
Coach Ady sendiri juga membuka ruang diskusi kepada para pemain ketika di luar game. Namun, hal tersebut tentu berbeda ketika sudah berada di dalam game.
"Di luar game, saya memberi ruang pemain untuk mengkritik saya. Kalau ada keputusan saya yang salah, silakan bilang. Kalau ada kebijakan yang tidak cocok, sampaikan. Saya bukan pelatih diktator yang merasa semua keputusan saya harus dipatuhi tanpa diskusi. Tetapi di dalam game, harus ada satu pengambil keputusan akhir: IGL," kata Ady.
Menurutnya, semua pemain wajib memiliki peran ataupun berkontribusi positif, baik yang berada di lineup ataupun tidak.
"Semua pemain tetap wajib berkontribusi. Mereka harus memberi info, membaca situasi, menyampaikan apa yang mereka lihat. Tidak boleh hanya menunggu arahan. Tetapi ketika IGL sudah membuat keputusan, yang lain harus ikut. Kalau empat orang punya arah masing-masing, tim akan pecah. Dalam battle royale, telat sedikit saja bisa fatal."
"Saya keras soal itu. Kalau seseorang ada di tim tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa, untuk apa? Tim profesional tidak bisa hanya menampung nama," tutur Ady menambahkan.
Tim terbaik dan obsesi juara dunia
Terkait kualitas roster RRQ Kazu di Turnamen Free Fire, Coach Ady mengaku senang karena adanya peningkatan level setiap musimnya.
"Tetapi apakah ini sudah mencapai kualitas tertinggi? Belum. Secara roster, mereka memenuhi kualitas RRQ. Namun potensi mereka belum keluar semua. Masih banyak yang bisa digali. Itu yang membuat saya tetap tertantang," kata beliau.
Dirinya mengaku sangat terobsesi untuk meraih juara dunia bersama RRQ. Menurutnya, itu cara beliau menanamkan bahwa mimpi ini serius.
"Saya pernah bilang ke anak-anak: kalau saya mati sekarang, mungkin saya jadi arwah gentayangan, karena belum juara dunia. Selama saya masih ada di tim, mereka tidak perlu takut mati. Yang harus mereka takutkan adalah kami tidak juara. Main di mana pun, lawan siapa pun, panggung sebesar apa pun, targetnya satu: juara."
Meski demikian, bukan berarti timnya tidak boleh kalah. Kalah bisa terjadi. Blunder bisa terjadi. Masalah pasti datang. Tetapi selama tujuannya sama, tim RRQ harus balik lagi, mencari solusi, dan upgrade.
"Yang paling penting, saya tidak mau pemain hanya diam menerima semua omongan saya. Kalau ada yang salah dari saya, kritik. Kalau ada kebijakan yang tidak cocok, diskusikan. Yang saya butuhkan adalah feedback, karena tim ini harus dibangun bersama," tambahnya.
2 Pemain Punya Ikatan Emosional, Siapa Calon Pengganti Coach Ady?
Coach Ady turut memberikan jawaban soal pemain punya ikatan emosional paling kuat dengannya.
"Razor dan Legaeloth punya tempat khusus. Tetapi sebenarnya hampir semua pemain yang pernah saya pegang masih punya ikatan emosional dengan saya," ucap beliau.
"Ada Aimgod, Riza, anak-anak dari The Boss. Dari RANS ada Rama, Iki, Domi, dan yang lain. Saya masih menganggap mereka seperti adik-adik saya. Kalau mereka punya masalah dan butuh saya, saya ada."
Tak hanya itu, Ady Gustiawan turut memberikan jawaban mencengangkan terkait siapa sosok yang cocok menggantikannya di RRQ Kazu sebagai pelatih.
"Legaeloth. Saya bisa bilang otaknya lebih canggih daripada saya. Dia punya dua hal yang tidak dimiliki banyak orang: expert dan profesional," kata Coach Ady menjawab speskulasi rumor yang beredar.
Menurut Coach Ady, Legaeloth memiliki modal mumpuni sebagai pelatih RRQ Kazu, mulai dari segi teknikal, mekanik, detail, psikologis, sampai makro game.
"Dia masih punya ambisi sebagai pemain, terutama untuk menjadi juara dunia. Tetapi saya pernah bilang ke dia, mungkin dia lebih cocok menjadi coach."
Bahkan, Ady mengaku rela dan tidak takut semisal suatu hari jika dirinya keluar dari RRQ dan digantikan Legaeloth.
"Saya hanya minta satu: setelah itu RRQ juara dunia bersama dia (Legaeloth). Kalau memang dia bisa membawa RRQ juara dunia, kenapa harus takut? Pada akhirnya ini bukan tentang saya. Ini tentang tim dan mimpi yang belum selesai," pungkasnya.




.png&w=3840&q=75)