Pelatih RRQ Kazu, Adi “Ady” Gustiawan, bicara tentang kembalinya Manay ke EVOS Divine, dan rapuhnya kepercayaan di tim besar.
Hal tersebut ia ungkapkan dalam sebuah wawancara bersama kru Redaksi Media Formasi yang berlangsung di tengah ramainya pembicaraan tentang EVOS Divine di FFWS SEA 2026 Spring.
EVOS, juara Free Fire di Esports World Cup 2025, sempat menjadi sorotan karena performanya yang naik-turun. Lalu Manay, sosok lama dengan legacy besar di EVOS dan Free Fire Indonesia, kembali muncul dalam peran analis.
Di mata publik, itu terlihat seperti manuver besar. Di mata Ady, ceritanya lebih rumit: Manay bisa membantu, tetapi tidak ada satu figur yang bisa menyelesaikan semua masalah jika fondasi tim sedang retak.
"Menurut saya, harus dilihat secara jernih dulu. Manay bukan orang yang benar-benar baru datang ke EVOS. Selama ini dia memang dekat dengan tim. Ke mana EVOS Divine bertanding, dia sering ada di sekitar mereka. Jadi kalau dibilang kehadirannya sekarang membuat semuanya berubah total, saya rasa tidak sesederhana itu," kata Coach ADY menanggapi soal kembalinya Manay ke EVOS Divine.
Ady menambahkan, status Manay sebagai analis membuat dia punya akses yang berbeda. Menurutnya, Manay bisa masuk ke stage, bicara langsung pada momen-momen krusial, terutama saat break antar-game.
"Itu penting. Dalam pertandingan, ada saat ketika pemain tidak butuh teori panjang. Mereka butuh diangkat lagi, di-reset lagi, diingatkan lagi bahwa mereka masih bisa bermain seperti seharusnya," ungkap beliau.
Ady menuturkan bahwa Manay punya legacy besar serta aura juara.
"Untuk pemain EVOS, itu bisa menjadi mood booster. Bisa membantu mereka lebih cepat recovery setelah game buruk," tambahnya.
Ady juga menjelaskan, kehadiran Manay memberikan dampak bukan semata strategi, tapi lebih ke mental dan momentum.
"Bisa dua-duanya, tetapi menurut saya yang paling terasa mungkin sisi mental. Kalau bicara analisis, Manay sebelumnya juga sudah sering ada di sekitar EVOS. Jadi bukan berarti sebelumnya tidak ada orang yang bisa membaca game, lalu sekarang tiba-tiba ada," tutur Ady.
Menurut Ady, yang berubah adalah momennya. Ketika pertandingan berjalan, suasana di stage itu berbeda.
"Pemain bisa panik, bisa terlalu panas, bisa kehilangan arah setelah satu keputusan buruk. Di situ kehadiran seseorang yang punya pengalaman besar bisa membantu. Bukan untuk memainkan game menggantikan mereka, tetapi untuk mengembalikan mereka ke jalur," kata Coach RRQ Kazu tersebut.
Ady memberikan opininya, bahwa kehadiran Manay sebagai analis tidak mengganggu posisi Coach Leem di EVOS Divine.
"Menurut saya, Leem qualified sebagai coach EVOS. Kalau bicara legacy, Manay memang besar. Tetapi bukan berarti Leem tidak mampu. Peran seperti itu bisa saling melengkapi kalau sistemnya jelas," ujar Ady.
"Manay bisa membawa aura dan pengalaman. Leem tetap punya kapasitas sebagai coach. Pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang paling besar namanya, tetapi apakah tim punya arah yang jelas."
Ady, yang pernah mengisi sebagai peran analis tim, menuturkan bahwa waktu singkat saat break antar-game merupakan hal yang sangat penting.
"Sangat penting. Tetapi jangan salah paham. Bukan berarti kalau coach masuk, pemain otomatis bagus. Bukan juga kalau coach tidak ada, pemain pasti jelek," kata Ady.
Menurutnya, fungsi coach di break adalah membuat tempo tim kembali jelas.
"Dalam waktu pendek, kami harus mengingatkan hal paling penting. Misalnya, kenapa vision tadi seperti itu? Kenapa fight itu diambil? Kenapa rotasi terlambat? Tetapi setelah mengingatkan kesalahan, pemain harus langsung di-reset," ujarnya menjelaskan.
"Tidak bisa dibiarkan tenggelam di salahnya. Kami harus balik lagi ke game plan: apa yang sudah disiapkan, apa yang berubah, bagaimana lawan bereaksi, dan apa yang harus dilakukan di game berikutnya."
Tanggapi Performa EVOS Divine
Adi Gustiawan turut memberikan pandangannya terkait performa EVOS Divine yang cenderung naik turun ataupun performa tim besar yang tiba-tiba menurun drastis. Ia juga pernah mengalami masa ketika timnya mengalami penurunan performa.
"Saya tidak mau menghakimi EVOS terlalu jauh, karena yang tahu masalah mereka ya mereka sendiri. Tetapi saya pernah merasakan situasi seperti itu," ujar Ady menanggapi.
Ia berpandangan, ketika performa tim besar menurun, masalahnya sering bukan teknikal.
"Pemain EVOS pasti tahu cara main. Mereka bukan tiba-tiba lupa menembak, lupa rotasi, atau lupa membaca zona. Justru karena mereka tim besar, problemnya biasanya lebih dalam," kata beliau.
Menurutnya, kata kuncinya adalah kepercayaan.
"Kepercayaan diri, kepercayaan antar pemain, kepercayaan kepada IGL (In-Game Leader), kepada sniper, kepada sistem, bahkan kepada manajemen," tambahnya.
"Begitu ada masalah, hal-hal kecil yang tadinya tertutup bisa ikut keluar. Ada opini, ada ganjalan, ada rasa tidak puas. Mengembalikan itu tidak cukup dengan satu atau dua game bagus. Kepercayaan harus dibangun ulang lewat konsistensi. Kalau proses recovery tidak konsisten, masalahnya bisa muncul lagi."
Sebagai pelatih berpengalaman di RRQ Kazu, Ady membeberkan bahwa pelatih harus terlebih dulu mengetahui masalah utama timnya.
"Di tim esports juga begitu. Coach harus tahu sumber masalahnya. Apakah dari komunikasi? Apakah dari ego? Apakah dari intervensi luar? Apakah dari visi pemain yang mulai berbeda? Setiap tim punya problem yang beda. Tidak bisa semua dikasih obat yang sama," tambahnya.
Meski demikian, problem tersebut akan terus datang dalam bentuk baru.
"Saya melihatnya seperti virus. Hari ini kita bisa menyelesaikan satu masalah, tetapi besok bisa muncul bentuk lain. Bahkan kalau sudah ada vaksin, bukan berarti kita aman selamanya.Kita harus terus upgrade antivirus," jelas Ady.
"Jadi pertanyaannya bukan apakah sebuah tim pernah crash atau tidak. Semua tim bisa crash. Pertanyaannya: setelah crash, mereka sadar tidak penyebabnya? Mereka mau belajar atau tidak?"
Ady juga setuju perihal tim yang pernah juara justru bisa punya masalah baru karena terlalu hidup di masa lalu.
"Bisa, apalagi kalau pemainnya masih muda. Kadang ada pemain yang ketika dikritik, jawabannya, “Yang penting kemarin saya menang.” Atau, “Saya sudah pernah juara.” Itu manusiawi. Mereka punya memori menang, lalu memori itu dipakai sebagai tameng."
"Tetapi turnamen berikutnya tidak peduli kita pernah juara atau tidak. Game hari ini tetap mulai dari nol. Kalau pemain terlalu hidup di kemenangan kemarin, dia bisa lupa bahwa tantangan hari ini berbeda," pungkasnya.




.png&w=3840&q=75)