Kiarapayung Camp, Sumedang, berubah menjadi gerbang menuju dunia lain pada 6–7 Juni 2026. Selama dua hari penuh, ratusan penjelajah dari berbagai daerah berkumpul dalam TOWER III, sebuah perhelatan Medieval LARP (Live Action Role Play) Nusantara yang untuk pertama kalinya diselenggarakan dengan format dua hari. Perubahan format ini menjadi langkah baru bagi TOWER dalam menghadirkan pengalaman bermain peran yang lebih mendalam, memungkinkan peserta untuk benar-benar hidup di dalam dunia yang mereka jelajahi.
Tidak sekadar mengenakan kostum dan memerankan karakter, peserta diajak menjadi bagian dari kisah besar yang dipenuhi intrik politik, konflik antarkerajaan, hingga ancaman yang dapat menentukan nasib seluruh semesta. Sejak tiba di lokasi, atmosfer Medieval Nusantara telah terasa melalui dekorasi area, interaksi para pemeran, hingga berbagai aktivitas yang tersebar di seluruh kawasan Kiarapayung Camp.
Rangkaian acara dibuka melalui upacara pembukaan yang diwakili oleh berbagai komunitas LARP yang hadir. Kehadiran perwakilan komunitas dari berbagai daerah menjadi simbol eratnya solidaritas dalam ekosistem LARP Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang. Upacara tersebut bukan hanya seremoni pembuka, tetapi juga penanda dimulainya petualangan yang akan dijalani bersama selama dua hari ke depan.

Setelah pembukaan, Pasar Sraya resmi dibuka dan segera dipadati oleh peserta. Area ini menjadi salah satu pusat kehidupan dalam dunia TOWER III. Beragam tenant makanan dan minuman dengan harga terjangkau hadir memenuhi kebutuhan para penjelajah yang beristirahat sejenak di sela-sela petualangan. Suasana pasar yang ramai menciptakan ruang interaksi yang hangat, mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang dalam satu semangat yang sama.
Memasuki inti permainan, para peserta dibagi ke dalam dua kubu besar: Negeri Ageng dan Kerajaan Annetiene. Pembagian ini berangkat dari prolog cerita TOWER III yang menjadi fondasi utama jalannya permainan.
Negeri Ageng dikenal sebagai tanah kemakmuran dan kekuatan. Namun di balik kejayaannya, tersegel sebuah portal kuno menuju Dunia Bawah, tempat para dedemit dan monster purba tertidur dalam kegelapan. Portal tersebut dijaga oleh Dyah Raraswati, pewaris kekuatan turun-temurun yang mampu mengendalikan Pedang Api Abadi sebagai kunci penutup gerbang kehancuran. Ketika kekuatan Dyah Raraswati melemah, segel perlahan retak dan ancaman dari Dunia Bawah mulai bangkit.
Di sisi lain, Kerajaan Annetiene menghadapi teror Kembang Madat, bunga terlarang yang mampu membuat manusia kehilangan akal hingga menemui ajal dalam tawa tanpa akhir. Situasi semakin rumit dengan memburuknya hubungan kedua kerajaan setelah gagalnya pernikahan perdamaian antara Sarendhra, putra Adipati Negeri Ageng, dan Lady Irine dari keluarga bangsawan Annetiene.
Dengan latar cerita tersebut, para pemain memasuki permainan dengan penuh kecurigaan. Berbagai intrik dan adu domba terjadi di antara kedua kubu. Informasi yang simpang siur, kepentingan yang berbeda, serta keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat membuat peserta terus mempertanyakan siapa kawan dan siapa lawan. Ketegangan ini menjadi salah satu elemen yang membuat pengalaman TOWER III terasa begitu hidup.
Namun, seiring berjalannya cerita, para penjelajah mulai menyadari bahwa ancaman terbesar ternyata bukan berasal dari kubu yang berseberangan. Kehadiran para bandit serta mereka yang telah terpengaruh oleh Kembang Madat memaksa Negeri Ageng dan Kerajaan Annetiene untuk memikirkan kembali permusuhan yang selama ini mereka pelihara.
Perbedaan yang sebelumnya menjadi sumber konflik perlahan berubah menjadi kekuatan. Para pemain dari kedua kubu harus bekerja sama, menyusun strategi, dan bertarung bahu-membahu demi menghadapi musuh bersama yang mengancam keselamatan seluruh semesta. Momen ini menjadi salah satu titik paling berkesan dalam perjalanan TOWER III, ketika persaingan berubah menjadi solidaritas.
Di luar alur cerita utama, peserta juga dapat menjelajahi berbagai area yang menambah keseruan acara. Arena boffer combat menjadi salah satu lokasi favorit, menghadirkan pertarungan terkontrol menggunakan senjata replika berbahan aman yang tetap mampu memacu adrenalin. Sorak-sorai peserta dan semangat sportivitas mewarnai setiap pertarungan yang berlangsung.
Pengalaman unik lainnya hadir melalui tenant interaktif yang menampilkan berbagai satwa, seperti ular, kadal, dan burung hantu. Kehadiran tenant ini menarik perhatian banyak pengunjung yang ingin melihat lebih dekat satwa-satwa tersebut, sekaligus menjadi alternatif hiburan di tengah padatnya rangkaian kegiatan.
Format dua hari yang diusung TOWER III terbukti memberikan ruang lebih luas bagi pengembangan cerita, eksplorasi karakter, dan interaksi antarpeserta. Tidak hanya menjadi ajang bermain peran, TOWER III juga menjadi tempat bertemunya komunitas, bertukar pengalaman, membangun relasi baru, serta merayakan kreativitas dalam balutan budaya Medieval Nusantara.
Melalui keberhasilan penyelenggaraan perdananya dalam format dua hari, TOWER III menunjukkan bahwa LARP bukan sekadar permainan. Ia adalah medium bercerita, ruang kolaborasi, sekaligus pengalaman kolektif yang mengajarkan bahwa di tengah perbedaan dan konflik, kemenangan sejati sering kali hanya dapat diraih melalui keberanian untuk saling percaya dan bekerja sama menghadapi ancaman yang lebih besar.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan pengalaman yang semakin kaya, TOWER III menjadi tonggak penting dalam perjalanan Medieval LARP Nusantara. Para penjelajah mungkin telah kembali ke kehidupan sehari-hari, tetapi kisah tentang pilihan, pengkhianatan, persahabatan, dan perjuangan yang mereka alami di Kiarapayung Camp akan terus hidup sebagai kenangan yang sulit dilupakan.





