Komunitas Salihara kembali bersiap untuk menggelar panggung seni pertunjukan berskala internasional melalui perhelatan SIPFest 2026 pada bulan Agustus mendatang.
Acara dua tahunan ini menjanjikan sebuah ruang interaksi budaya yang mempertemukan berbagai gagasan segar dari para pelaku seni.
Tajuk Asia Ria dan Deretan Karya Spektakuler
Festival tahun ini secara resmi mengusung tema besar bertajuk Asia Ria. Direktur Program SIPFest 2026, Ening Nurjanah, mengungkapkan bahwa pemilihan tema ini merupakan bentuk respons terhadap dinamika global saat ini.
Menurutnya, banyak karya kesenian dengan kualitas tinggi justru lahir dari seniman asal Asia maupun para diaspora Asia di berbagai belahan dunia. Semangat perayaan ini dirancang untuk menghadirkan karya unggulan yang mampu menjembatani dialog lintas negara, bahasa, serta budaya penciptanya.
Lebih dari sekadar pertunjukan biasa, acara ini menampilkan sepuluh program utama yang sangat beragam. Pertunjukan akan dibuka oleh karya koreografer Melati Suryodarmo bertajuk Orfeus yang mengadaptasi sajak Goenawan Mohamad.
Selain itu, terdapat pula produksi teater kolaborasi tiga negara berjudul Nadirah. Lakon teater yang disutradarai oleh Iedil Dzuhrie Alaudin ini mengangkat isu sensitif seputar identitas sosial yang diadaptasi agar relevan dengan realitas penonton mayoritas di Indonesia.
Para penikmat seni juga akan disuguhkan pengalaman imersif tanpa kursi penonton lewat Opera for the Dead, serta aksi penutup dari kelompok butoh legendaris Jepang bernama Sankai Juku. Penonton ditekankan untuk hadir secara fisik karena seni pertunjukan memberikan pengalaman tiga dimensi yang menghubungkan panggung dan audiens tanpa adanya jarak.
Ruang Edukasi dan Akses Tiket Pertunjukan
Tidak hanya menampilkan karya yang sudah matang, festival ini juga memberikan ruang bagi proses kreatif yang masih berjalan. Terdapat sebuah program bernama Ruang Bertumbuh yang didedikasikan untuk menampilkan karya seni yang belum selesai agar para penciptanya dapat menerima umpan balik dari publik maupun kurator secara langsung.
Program ini menghadirkan perwakilan dari Indonesia dan Korea Selatan dalam sebuah ruang diskusi yang terbuka lebar. Selain itu, publik juga diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai lokakarya bersama seniman internasional guna mempelajari metode artistik mereka secara mendalam.
Bagi masyarakat luas yang ingin menikmati rangkaian acara ini, pemesanan tiket sudah dapat dilakukan secara daring. Pengunjung dapat mengakses laman resmi festival untuk melakukan tahapan reservasi.
Harga tiket yang ditawarkan cukup bervariasi, dimulai dari tujuh puluh lima ribu rupiah untuk kalangan pelajar hingga dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk kategori umum. Tersedia pula opsi tiket terusan seharga satu setengah juta rupiah bagi mereka yang ingin menikmati seluruh rangkaian pertunjukan secara utuh.





