Aktivitas bermain gim kini sudah melekat erat dalam keseharian generasi muda Indonesia. Namun, menjaga agar hobi digital ini tetap memberikan dampak positif membutuhkan sinergi nyata antara pihak regulator dan pelaku industri. Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui program edukasi berskala nasional demi menciptakan ekosistem bermain yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Menanggapi isu tersebut, sebuah langkah nyata diambil oleh Garena, salah satu publisher terbesar di Indonesia demi menciptakan ekosistem bermain yang lebih sehat. Mereka turun langsung ke lingkungan sekolah untuk menjembatani komunikasi antara pelajar, orang tua, dan pihak berwenang.
Kampanye Positif di SMA Marsudirini Bekasi
Melalui inisiatif bertajuk "Garena Good Game di Sekolah", Garena Indonesia bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI) menggelar sosialisasi di SMA Marsudirini Bekasi. Acara ini mempertemukan sekitar 350 peserta yang terdiri atas murid, orang tua, guru, psikolog, serta perwakilan industri.
Mengusung tema "Ayo Jadi Good Gamers dan Good Students!", agenda utama program difokuskan pada pentingnya menjaga keselarasan antara prestasi akademik dan hobi bermain gim.
Pihak sekolah mengapresiasi penuh langkah ini karena dinilai mampu menanamkan nilai disiplin serta sportivitas. Garena juga mempertegas komitmen edukasi tersebut secara konkret, salah satunya lewat ajang Garena Youth Championship yang mewajibkan nilai rapor baik sebagai syarat utama kepesertaan turnamen.
DARA, Layanan Baru Pendampingan Adiksi Gim
Satu hal yang membedakan program kali ini adalah peluncuran DARA oleh Komdigi RI. DARA merupakan platform bimbingan serta layanan konsultasi bagi keluarga yang menghadapi indikasi adiksi gim pada anak.
Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Komdigi RI, Tita Ayuditya Surya, menyatakan bahwa kehadiran layanan tersebut berfungsi sebagai akses informasi mandiri hingga penanganan oleh ahli.
Pendekatan DARA tidak bersifat restriktif atau melarang total, melainkan membimbing orang tua dan anak agar memahami batasan serta risiko secara bertahap. Sudut pandang ini diperkuat oleh psikolog klinis yang mengingatkan bahwa pengawasan orang dewasa dan kesesuaian usia jauh lebih krusial dibandingkan sekadar membatasi durasi bermain





