BERITA

[Opini] Jangan Remehkan Uang Receh Kamu

Oleh Media Formasi 5 menit baca
placeholder image

Hai MedForians! Pernahkah kalian membuang uang koin yang banyak dianggap kebanyakan orang sangatlah 'receh', tidak layak sebagai mata uang dan yang ada malah memenuhi dompet kalian dengan nominal uang yang tidak sepadan dengan volume dan massa yang 'diberikan' dari uang logam tersebut?

Lalu pertanyaannya adalah, apa kamu benar-benar menganggap uang tersebut tidak berguna dan tidak seharusnya diedarkan oleh Bank Indonesia? Jika berpikir demikian, mungkin terpikirkan bahwa "Kenapa Bank Indonesia masih mengedarkannya sampai sekarang?"

Apakah Orang Masih Membutuhkannya?

Mungkin kita akan coba memahami dari berbagai perspektif. Contohnya seperti ini, bayangkan kalian berada di sebuah minimarket untuk belanja kebutuhan harian, dan pihak kasir memberimu uang receh sebagai kembalian dari pembelianmu. Pertanyaannya adalah "Jika masih harus menunggu kembalian uang receh, berapa banyak waktu yang terbuang?", atau "Apakah kalian bisa menyiapkannya untuk pembeliannya selanjutnya?". Intinya adalah "Apakah kalian masih membutuhkan uang receh sampai sekarang?".

Lagipula mungkin kalian merasa tidak membutuhkannya meskipun itu adalah hak dari seorang pembeli untuk mendapatkan kembalian dari sebuah pembayaran, bukan? Selain itu, bagi sebagian orang, rasanya menolak kembalian uang receh juga tidak merasa memberatkan dari segi ekonomi, apalagi jika sudah cukup mapan dengan pendapatan stabil.

Lalu kenapa penulis membawakan opini yang dibesar-besarkan dan bisa dibilang sepele bagi mayoritas orang? Sebenarnya ada alasannya tersendiri bahwasannya kalian mungkin akan membutuhkannya. Oleh karena itu, ayo kita memahami dari perspektif yang berbeda.

Cerita uang receh yang sangat berharga

Pada Agustus 2024, penulis mengunjungi minimarket terdekat untuk membeli sebuah pasta instan yang sedang tren. Pada saat itu harganya masih di sekitar Rp. 3.100 dan penulis membeli stok hingga cukup untuk tiga kali makan dalam sehari selama sebulan mendatang.

Total pembelian adalah Rp 9.300 dan biasanya penulis membayar dengan uang pecahan uang Rp 10.000 atau Rp. 20.000. Saat membayar biasanya kasir akan membulatkan nominal yang harus kamu bayar menjadi Rp. 9.500.

Benar, mungkin ada kalanya jika kasirnya berbeda orang akan dengan baik hati memberi kembaliannya walaupun hanya Rp 700 perak saja. Tetapi penulis tetap saja membuang uang kembaliannya yang sebesar Rp 200 karena hanya Rp 500 saja yang masih bisa digunakan dalam pembelian selanjutnya.

Penulis iseng dengan menghitung uang receh sebesar Rp 200 tersebut jika dikalikan 4 kali dalam satu bulan. Yakni mencapai Rp 800. Penulis menyadari bahwa ada kalanya Rp 800 bisa digunakan untuk membeli satu piring nasi dengan lauk pauk ketika mendengar pengalaman orang tua yang pernah meraskan pahitnya tahun 90-an.

Jika 800 yen pada zaman sekarang bisa membeli ramen dengan rasa yang lumayan enak, di Indonesia pada era 90-an dengan uang 800 perak kalian bisa menjadikannya sebagai makan siang.

Sejak saat itu penulis tidak mau menganggap uang logam tersebut sebagai receh, remeh, dan kecil lagi. Penulis makin menyadari bahwa dalam keseharian masih ada biaya dan tagihan lain yang memerlukan uang receh seperti admin bank ketika menarik uang dan biaya top up e-wallet agar bisa menghemat pengeluaran ketika mengisi pulsa. Ya, dengan e-wallet kamu juga bisa sedikit menghemat pengeluaran untuk pulsa yang kamu pakai sehari-harinya layaknya kebutuhan pokok. Walaupun kamu harus membayar biaya top up di awal yang sedikit mahal yakni Rp. 2.500.

Tidak perlu dihitung dari total admin untuk biaya top up tersebut, ambil saja Rp. 500 saja dari total adminnya. Anggap sebulan bisa mengeluarkan 500 perak untuk pulsa. Tapi jika ditambah dengan uang receh yang dibuang ketika membeli pasta instan tersebut bisa menjadi Rp 1.300.

Total uang tersebut masih belum seberapa karena pada kondisi tertentu penulis bisa lebih banyak membuang uang receh dan belum termasuk pengeluaran lain seperti admin di e-commerce dan kebutuhan lain yang ada di minimarket selain pasta instan favorit.

Sejak saat itu juga tiap bulannya penulis mencoba mencatat pengeluaran uang receh juga termasuk uang logam yang dibuang di jalan dengan sia-sia. Jumlah tertinggi diraih pada saat bulan Oktober di mana penulis membuang Rp 8.100 dan jika ditambah dengan uang admin untuk beli pulsa yang dianggap hanya sebesar Rp 500 dari Rp 2.500, biaya admin pembelian barang di e-commerce kesayangan bisa mencapai Rp 9.600. Dengan uang sebesar itu pasti bisa mendapatkan satu potong paha ayam pinggir jalan, di beberapa tempat bahkan bisa mendapatkan satu potong ayam, nasi dan minuman.

Apa yang bisa kamu ambil dari cerita tersebut?

Sampai bagian ini pasti kamu belum sadar dan masih menganggap uang receh tersebut tidak berguna. Beberapa orang bahkan bisa menganggap uang sebesar Rp 1.000-Rp 3.000 cuman uang receh lho. Ingat! penulis hanya mengambil sebesar Rp 500 dari Rp 2.500 total biaya admin yang diperlukan untuk menghemat pengeluaran pulsa bukan? Jika penulis menghitung dari semua total biaya admin top up dengan total uang receh yang dikeluarkan dan dibuang bisa menjadi Rp 11.600. Biaya itu masih belum seberapa dan masih ada banyak lagi kebutuhan yang memerlukan biaya admin receh yang jika dihitung akan terkesan tidak masuk akal dan terkesan dilebih-lebihkan.

Rp 11.600 itu merupakan 11% dari harga total satu lot saham (100 lembar). Jika kamu memasukkan uang tersebut di dalam bank digital dan tetap dijaga selama 12 bulan lamanya dengan rata-rata bunga tahunan bank digital sebesar 2% bisa menjadi Rp 11.832. Anggap saja secara kasar Rp 11.600 dikalikan dengan satu tahun (12 bulan) bisa menjadi Rp 139.200 yang berarti kamu sudah membuang satu lot saham atau 3 bulan paket internetmu dengan sia-sia dengan "membuang uang receh". Dengan mengumpulkan uang receh yang kamu buang selama satu tahun penuh dan dijaga di bank digital, uang tersebut bisa berbunga sebesar Rp 2.784.

Pada akhirnya semua orang tidak boleh mengangap uang kecil sebagai recehan, remeh bahkan lebih parahnya tidak berguna karena baik penulis, kamu dan banyak orang lainnya yang justru sangat membutuhkan uang yang kamu anggap 'kecil' tersebut.

Gunakanlah sebaik-baiknya uang logam kecil tersebut dengan menukarkannya ke sesuatu yang benar-benar bermanfaat dan berguna terlebih lagi jangan membuangnya di jalan.

Di akhir cerita penulis mengumpulkan uang receh yang diberikan kasir dan tidak memberikannya secara percuma maupun membuangnya. Di akhir bulan dengan uang receh yang terkumpul tersebut, penulis bisa membeli 2 pasta instan favorit yang sekarang harganya perlahan naik sebesar Rp 200.

Dengan membaca artikel ini sampai akhir kamu pasti teringat dengan peribahasa "Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit". Akhir kata, hargailah uangmu dan gunakan dengan sebaik-baiknya.


Tentang Penulis

Media Formasi
Media FormasiPenulis di Media Formasi

Media Formasi adalah bagian dari tim editorial Media Formasi yang berdedikasi untuk memberikan berita dan informasi terkini seputar dunia pop kultur, hobi, dan teknologi di Indonesia.

Punya pertanyaan atau ingin menghubungi tim redaksi? Email kami di [email protected]