Selama setahun terakhir, BYD telah dengan cepat memperluas jangkauan pasarnya ke seluruh dunia. Kali ini, mereka nampaknya sedang membidik pasar terbaru untuk kendaraan mereka, yakni negara terpadat kelima di dunia, Pakistan.
Melansir dari laman CarNewsChina pada Jum'at (16/8) kemarin, pihak BYD pada tanggal 17 Agustus kemarin telah menggelar konferensi di Pakistan, sekaligus memboyong tiga model yang nantinya akan dijual di negara yang terkenal dengan lanskap alamnya ini.
Ketiga model yang akan dibawa BYD ini merupakan model yang telah lama di pasaran, seperti BYD Atto 3 dan Dolphin, serta model sedan BYD Seal. Menurut rumor yang beredar, target utama dari penjualan model BYD di Pakistan ini ialah model PHEV dan elektrik mereka.
Bermitra Dengan Konglomerat Bisnis Terbesar Pakistan
Untuk masuk ke pasar Pakistan, BYD telah bermitra dengan Mega Conglomerate Pvt, salah satu grup bisnis terbesar di Pakistan. Menurut Bloomberg, kesepakatan ini telah melampaui model dealer di sebagian besar pasar yang mereka tuju.
Penjualan kendaraan yang dirakit secara lokal di Pakistan tahun lalu mencapai 85.087 unit, turun 63,4% dari tahun sebelumnya dan diyakini bahwa mobil penumpang hanya menyumbang sekitar setengah dari total penjualan tersebut. Data yang menggembirakan pada bulan Mei dari Pakistan Automotive Manufacturers Association (PAMA) menunjukkan bahwa penjualan mobil penumpang mencapai 8.487 unit, naik dari 3.934 unit pada Mei 2023.
Telah Berekspansi Ke 80 Negara
Pemerintah Pakistan memiliki target 30% dari penjualan mobil baru terdiri dari kendaraan energi baru pada tahun 2030. Produsen-produsen Cina termasuk Great Wall Motor, SAIC, dan Changan telah memasuki pasar lokal.
BYD telah memasuki lebih dari 80 pasar secara global. Pada bulan Juli lalu, BYD membuka pabrik luar negeri pertamanya yang sepenuhnya dimiliki di Thailand dengan produksi kendaraan energi baru yang ke-8 juta.
Sebelumnya BYD telah memiliki pabrik JV di Uzbekistan dan sedang membangun pabrik di daerah Subang, Jawa Barat. Selain itu, BYD telah menandatangani perjanjian dengan Hungaria, Turki, dan Brasil untuk produksi mobil listrik.



