Jumat (19/7) kemarin, layanan masyarakat seperti bandara dan bank di seluruh dunia terkena imbas pembaruan software oleh CrowdStrike yang menyebabkan BSOD (blue screen of death).
Menurut CNBC, Sabtu (20/7), ahli IT menyebut peristiwa tersebut sebagai "pemadaman IT terbesar sepanjang sejarah".
CrowdStrike Pastikan Bukan Serangan Siber
Menjawab isu tersebut, CrowdStrike unggah pernyataan resmi ke situs perusahaan Sabtu (20/7) ini untuk meminta maaf dan membahas langkah selanjutnya.
CrowdStrike juga memastikan bahwa error tersebut disebabkan oleh patch pembaruan yang bermasalah dan bukan serangan siber.
Berikut adalah pernyataan CrowdStrike:
CrowdStrike kini bekerja sama dengan pelanggan yang terkena kecacatan yang ditemukan dalam satu pembaruan konten untuk Windows. Mac dan Linux tidak terpengaruh. Ini bukanl serangan siber.
Masalahnya telah kami identifikasi, isolasi, dan perbaiki. Kami merujuk pelanggan ke portal dukungan untuk pembaruan terkini dan akan terus memberikan pembaruan yang lengkap dan berkelanjutan di blog kami.
Kami merekomendasikan organisasi untuk berkomunikasi dengan perwakilan CrowdStrike melalui saluran resmi.
Sebuah tim telah dikerahkan untuk memastikan keamanan dan stabilitas pelanggan CrowdStrike.
Kami memahami keseriusan situasi ini dan sangat menyesal atas ketidaknyamanan ini. Kami bekerja sama dengan pelanggan yang terkena dampak untuk memastikan bahwa sistem telah aktif kembali dan dapat menyediakan layanan yang dapat diandalkan.
CrowdStrike kini beroperasi secara normal dan [pembaruan] ini tidak memengaruhi sistem Falcon. Jika sensor Falcon terpasang dan sistem Anda beroperasi secara normal, tidak akan ada dampak terhadap perlindungan sistem Anda.
Bersama dengan pernyataan tersebut, CrowdStrike juga berikan instruksi rinci untuk mengatasi error BSOD.
Apa yang Terjadi?
Pembaruan Falcon, software anti serangan siber buatan CrowdStrike yang digunakan oleh lembaga besar di seluruh dunia, menyebabkan perangkat dengan sistem operasi Windows tak dapat beroperasi.
Lembaga yang terdampak termasuk Visa, Amazon, dan berbagai bandara besar seperti Changi (Singapore), Los Angeles (AS), dan Brussels (Belgia).
Akibat kejadian tersebut, banyak penerbangan alami keterlambatan, pesawat terpaksa mendarat, dan penundaan transplantasi jantung kepada seorang lansia, menurut Associated Press.



.jpg&w=3840&q=75)
.jpg&w=3840&q=75)